Lusi Nesrika jelita, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Segurat Rindu (bagian 2) (TantanganGurusiana#Tantangan Hari ke-31)

Segurat Rindu (bagian 2) (TantanganGurusiana#Tantangan Hari ke-31)

SEGURAT RINDU

Part 2

(TantanganGurusiana #Tantangan Hari ke-31)

Sebelum pembelajaran dimulai, siswa tahsinul Quran sekitar 20 menit terlebih dahulu. Setelah itu baru mulai pembelajaran. Kebetulan, giliran Dira yang membaca Alquran. Ketika salah satu temannya menyuruh dia membaca, ia menolak dengan alasan ia sedang haid. Akhirnya, ia digantikan oleh temannya. Setelah 20 menit, barulah aku mulai pembelajaran pagi ini.

Aku menjelaskan KD dan tujuan pembelajaran hari ini. setelah itu, para sisiwa duduk perkelompok. Pembagian kelompok ini aku lakukan di awal pertemuan. Jadi, mereka sudah tahu dengan anggota kelompoknya. Nama kelompoknya sesuai dengan bidang studi yang aku ajar yaitu Bahasa Indonesia. Kelas ini dibagi menjadi 5 kelompok dengan nama masing-masing kelompoknya adalah kelompok kata, kelompok klausa, kelompok kalimat, kelompok paragraf dan kelompok wacana.

Aku mulai mengintruksikan siswa untuk duduk sesuai kelompoknya masing-masing. Semua siswa sibuk mengatur tempat duduk sesuai kelompoknya. Ada yang mengangkat kursi dan ada juga yang menggeser mejanya agar mereka duduk membentuk lingkaran. Yang pasti semua siswa bergerak sesuai intruksi yang aku berikan. Namun, berbeda dengan Dira. Ia tetap duduk termangu di sudut kelas di tempat duduknya. Seperti biasa yang ia lakukan, ia memainkan ujung penanya di sudut bibir kanan. Wajahnya menunduk seakan tak ingin dilihat orang. Beberapa kali teman kelompoknya memanggil agar segera bergabung. Namun, yang dipanggil tidak menyahut. Temannya pasrah dan tetap membiarkan Dira duduk sendiri.

“Dira, silahkan bergabung dengan kelompokmu”, perintahku kepada Dira.

Ia terperanjat ketika namanya aku panggil. Tanpa menjawab, ia segera berpindah tempat dan bergabung dengan teman kelompoknya.

Aku mulai mejelaskan apa yang akan mereka lakukan hari ini. Kebetulan materinya adalah tentang proposal penelitian. Pada pertemuan sebelumnya, aku menugaskan para siswa untuk mencari 5 masalah yang ada di sekitarnya. Masalah tersebut boleh masalah sosial, masalah pendidikan, masalah lingkungan atau masalah lainnya. Dari identifikasi 5 masalah tersebut dipilih satu masalah yang urgen menurut kelompok mereka. Masalah yang urgen itu yang akan dipresentasikan hari ini. Pembicara yang ditunjuk akan menjelaskan alasan kenapa memilih masalah tersebut. Lalu menjelaskan, kira-kira apa solusi dari masalah yang mereka dapat.

Kebetulan, kelompok Dira yang akan mempresentasikannya terlebih dahulu. Masalah yang dipilih adalah tentang Pengaruh Broken Home pada Remaja. Mulailah salah seorang dari anggota kelompok menjelaskan.

“Setiap manusia yang terlahir ke dunia pasti mempunyai impian memilki keluaga yang harmonis dan bahagia. Keluarga adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan setiap individu, bahkan masa depan seorang anak bergantung dari baik tidaknya hubungan sebuah keluarga. Namun, adakalanya keluarga mengalami perpecahan yang berakibat perceraian, inilah yang dinamakan Broken Home”, jelas salah seorang siswa yang mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Tetiba, Dira bangun dari kursinya dan menuju pintu untuk ke luar. Prak...,bunyi keras membuat kegaduhan di kelas tak terhindari. Dira menubruk salah satu tempat duduk temannya. Spontan ia terjerembab mencium lantai. Ia berusaha bangkit sambil mengusap bibirnya yang mungkin lebam. Salah seorang teman ingin membantu untuk berdiri. Namun, Dira mengibaskan tangan temannya dengan kasar. Dengan tertatih ia berusaha bangkit dan melaju ke luar sambil menyeka air matanya yang sudah mulai membasahi pipinya yang putih bersih.

Aku terdiam mematung sejenak. Banyak tanda tanya terngiang di kepala. Ada apa dengan siswaku yang cantik ini. Sedangkan teman-temannya yang lain saling bertanya ada apa dengan Dira Si anak pendiam. Akibatnya, kelas ini menjadi rusuh. Sebelum ke luar mencari ke beradaan Dira, aku menenangkan lokal terlebih dahulu. Terpaksa kelas aku tinggalkan sementara. Aku meminta semua siswa melanjutkan diskusi tanpa kehadiranku. Alhamdulillah kelas ini mempunyai ketua kelas yang bijak juga pintar. Aku mempercayakan diskusi ini kepada Rahmad, sang ketua kelas yang terkenal pintar dan juga cerdas.

Aku menyusuri koridor sekolah yang cukup panjang. Netraku liar mencari keberadaan Dira. Namun, yang dicari belum juga tampak. Aku lanjutkan pencarian ke toilet khusus siswa. Kemungkinan besar Dira berada di sana. Mengingat ia dalam keadaan menangis. Aku buka pintu toilet yang tidak terkunci. Ada seorang siswa berdiri menghadap kaca dan membelakangiku. Sontak aku panggil,“Dira”

Orang yang dipanggil menoleh. “Saya, Bu?”, tanyanya heran.

“Oh. Maaf, Nak. Ibu sedang mencari Dira, kelas X MIA 1. Apakah kamu mengetahui keberadaannya?”, tanyaku penuh harap.

Si anak menggeleng lemah. Sedangkan aku langsung berbalik menuju ke taman belakang. Di sana terdapat beberapa gazebo yang biasanya digunakan para siswa untuk istirahat atau hanya sekedar duduk-duduk. Ku ayunkan langkah lebih cepat menuju gazebo yang berada di sudut taman. Gazebo itu agak tersembunyi karena tertutupi oleh beberapa pohon besar yang tumbuh rimbun.

Beribu pertanyaan bermunculan di kepala. Seberapa besar masalah yang dihadapi anak pendiam ini. Ada perasaan cemas yang menyesak di hati. Pikiran negatif pun mulai bermunculan. Aku takut seandainya Dira melakukan sesuatu di luar nalarnya yang berakibat buruk pada dirinya.

Aku sudah tiba di gazebo yang dimaksud. Gazebo itu nihil. Tak seorang pun ada di sana. Aku berpikir keras. Kira-kira dimana Dira berada. Aku putus asa. Kakiku sudah tidak bisa diajak kompromi. Kedua betisku terasa berdenyut. Ternyata memakai sepatu haighil ini sangat tidak nyaman. Ku buka sepatu pemberian dari salah seorang alumni ini. Aku paksakan berjalan tanpa alas kaki. Sungguh rasa sakit di betis dan bagian tumit tidak bisa aku tahan. Kerongkonganku pun terasa kering. Ya, yang aku butuhkan sekarang adalah seteguk air minum.

Tanpa sepatu, aku menyusuri jalan kecil menuju kantin Bu Gus langgananku. Kebetulan kantin itu pun dekat dari taman ini. Ku raih salah satu kursi yang berada di sana. Belum sempat untuk duduk. Tetiba, aku melihat Dira sedang menyeruput air mineral yang berada di tangannya. Sontak aku mengurungkan niat untuk duduk. ‘Dira’, batinku.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Keren

14 Feb
Balas

Mantul.... Si....

14 Feb
Balas

He...he...sukron i..

14 Feb

Nice story buk Lusi

14 Feb
Balas

Alhamdulillah....Bapak

14 Feb

Mantap buk Lusi....

14 Feb
Balas

Sukron ibu...

14 Feb

Maa syaa Allah buk, menarik cerita nya, jadi semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya, hehe

15 Feb
Balas
search